Tuesday, 21 May 2013
Wednesday, 15 May 2013
Sunday, 28 April 2013
Monday, 22 April 2013
Wednesday, 17 April 2013
Friday, 12 April 2013
Wednesday, 10 April 2013
Thursday, 4 April 2013
Wednesday, 20 March 2013
Dariku tentang buku
The Souls Moonlight Sonata
“Musiklah yang menyatukan jiwa
pecinta dan cintanya!”
Seperti
minggu-minggu sebelumnya, seperti yang sudah-sudah, seolah ada hukum wajib
untuk mendatangi Sanggar Guna. Entah untuk pinjam buku, baca, ataupun sekedar
duduk dan melamun. Karena memang tempatnya yang sepi dan tenang sangat
mendukung jiwa saya yang cenderung suka menyendiri.
Sebenarnya,
sudah lama beberapa teman menyodorkan buku ini, apalagi setelah penulisnya,
Wina Bojonegoro, datang langsung, tapi saya tidak berminat sama sekali dan
tidak pernah menggubrisnya. Alasannya simple
saja, karena Judulnya Moonlight Sonata dan bergambar biola.
Kenapa
begitu? Karena pikiran saya langsung mengarah ke musik klasik. Dan entah kenapa
hal-hal yang berhubungan dengan musik klasik terasa berat bagi saya. Apalagi
jika mendengar musik klasik, seperti mendengar lagu kematian yang membawa
suasana ngeri dan mencekam. Hiii…
Tapi
buku ini selalu ini mengejar saya. Meminta saya untuk menyetuhnya dan mengiba
untuk saya baca. Seperti memelas dengan tampang yang memilukan. Akhirnya,
minggu 10 Maret, entah dorongan dari mana atau bisikan dari siapa, saya
mengambil buku ini diantara deretan buku-buku lain.
Antonius
Stradivarius
Nama itu
sangat asing bagi saya yang setiap hari hanya mendengar lagu-lagu Sheila on 7. Nama
yang terdengar mistis. Dan memang Wina menyuguhkan aura mistis sejak halaman
pertama buku ini. Nama yang sulit saya ucapkan dengan lidah saya itu adalah
nama biola legendaris yang diciptakan oleh seseorang yang bernama Antonio
Stradivari.
Di buku musikal
ini, Wina cukup sukses mengajarkan saya tentang musik, terutama biola. Apalagi
pengetahuan yang sangat baru mengenai sejarah biola Anotonius Stradivarius yang
dibuat di Cremoni tahun 1644. Konon Stradivari
harus menggadaikan jiwanya dengan iblis agar suara biolanya tak hanya merdu,
tapi juga menghipnotis.
Yang aneh
adalah bagaimana sebuah biola legendaris itu ada di sebuah kampung yang bernama
Gandusari, sebuah desa di kawasan Kabupaten Trenggalek. Sedangkan Stradivari
sendiri hanya membuat 1000 buah dan tersisa 600 buah. Tapi semua dimungkinkan
oleh penulis asal Bojonegoro ini, dengan piawai ia menggiring kita dengan
cerita masa lalu Padma, tokoh utama, tentang bagaimana ia mendapatkan Biola
itu, tentang mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya, tentang penampakan-penampakan
yang sering dialaminya, dan tentang arwah-arwah yang selalu bergentayangan.
Endang
Winarti, nama asli Wina Bojonegoro, cukup piawai bercerita dengan dua sudut
pandang. Ia meramu cerita yang tak masuk akal menjadi, ya…mungkin saja itu
terjadi. Semua orang memiliki kelebihan dibalik semua kekurangannya. Itulah
yang ingin ditunjukkan Padma, dengan gigih ia menunjukkan ke semua orang bahwa
meskipun ia seorang gading kampung dengan tampang yang pas-pasan, ia bisa
menjadi seorang violist yang serba bisa.
Eksistensi.
Hakikatnya manusia butuh pengakuan. Itulah yang dilakukan Padma. Ia selalu
ingin bisa membanggakan Ayahnya, ingin merasakan kehangat dan pelukan Ayahnya
yang tak pernah didapatkannya sejak kecil. Tapi tanpa disangka, proses
eksistensinya membawa Padma menuju cinta dan kenyataan mengenai darah violist
yang diturunkan padanya.
Saya
bersyukur punya kesempatan untuk membaca buku ini. Bisa berkenalan dengan Antonius
Stradivarius yang membuat saya banyak browsing untuk lebih tahu tentang biola legendaris
itu. Bisa meyakinkan diri bahwa kita pasti punya kelebihan, tinggal bagaimana
upaya kita untuk mengelola kelebihan itu. Tentang cinta? Semua kisah takkan
berjiwa tanpa bumbu cinta, bukan begitu?
Untuk Mbak
Wina, maaf saya pernah menolak membaca buku Anda karena covernya. Ternyata benar,
Don’t Judge the Book from the Cover. N thank’s for all about Antonius
Stradivarius. Love it!
-Ika
Fari-
Di tepian Malam, 02:00 am
Maret 2013
Wednesday, 22 February 2012
BATU
Sekarang hari minggu. Di
kamar ini, di atas kasur dengan sprei
warna hitam bergaris putih aku
masih meringkuk di dalam selimut dengan warna yang sama dengan spreiku.
Kubiarkan saja alarm handphoneku
meraung-raung dengan lagu Sheila on 7-Pagi yang Menakjubkan. Tapi lama-lama aku
tidak tahan juga. Kugerayangi benda kotak itu di kasurku. Sial..tanganku tak
dapat mendeteksinya. Dengan jengkel kubuka mata dan segera menekan tombol stop untuk membungkam raungan
congkaknya.
Cepat-cepat
kuraih selimutku lagi sambil melirik angka jam di handphoneku. Ahh…baru jam
setengah Sembilan. Tapi tiba-tiba aku seperti tersengat listrik. Mendadak
pikiranku kembali waras. Jam Sembilan kan aku harus ke Sanggar Guna.
Buru-buru
aku turun dari kasur. Tapi baru beberapa langkah menuju pintu tiba-tiba…
“Ahhh…!!!”teriakku
tanpa bisa terkontrol dengan diiringi suara berdebam. Tubuhku yang gendut jatuh
di lantai kamarku yang berlapis karpet coklat.
“Kenapa
Will?”tanya ibuku dengan nada penuh kekhawatiran.
“Kesandung
Bu…”jawabku sambil bersusah payah untuk bangkit.
“Kesandung
apa?”
“Batu…nggak
tau dari mana”
“Mana…nggak
ada batu…?”tanya ibu sambil celingak celinguk.
“Hah…tadi
ada kok…”sergahku penuh keyakinan.
“Halah…cepetan
mandi sana…biar cepet sadar!”kata ibu
sambil ngeloyor pergi.
Aku
yakin tadi ada batu yang menyandungku!! Mataku terus mencari-cari kemana
gerangan batu itu sambil tanganku memegangi
lututku yang ngilu, Tapi kok nggak ada...? Aneh.
***
Meskipun
sudah jam setengah sepuluh pagi, hari minggu kali ini begitu redup. Matahari
tak terlalu bersinar. Jalanan pun tak terlalu ramai. Perjalan ke Sanggar Guna,
tempatku belajar menulis, terasa begitu cepat. Tapi aku yakin, aku sudah
terlambat seperti biasa.
Setelah
melewati pagar warna krem, seperti biasa aku memarkir sepeda motor bebek warna
hitamku di bawah pohon mangga. Tapi anehnya sepeda motor yang terparkir tidak
sebanyak biasanya. Jumlahnya tidak genap sepuluh.
Di paviliun depan,
terlihat pak Anas, guru kelas menulis kami, sedang ngobrol dengan santai dengan
beberapa teman. Aneh sekali, biasanya jam segini sudah mulai. Mana sepi lagi. Mungkin
karena hari ini begitu redup makanya teman-teman kelas menulis malas untuk
keluar rumah. Mendung-mendung begini lebih enak tidur di dalam selimut.
Sambil
berjalan tertatih gara-gara peristiwa kecelakaan di kamar yang tidak jelas itu,
aku membayangkan sedang tidur di kamarku yang hangat…oh nikmatnya…
“Brukk!!!”
Ancrittt…mimpi apa aku semalam? Sekarang
aku malah mencium kerikil halaman depan sanggar.
“Kamu
nggak apa-apa Wil?”tanya Bendot yang semula berada di paviliun. Cowok kurus dan
berambut ikal ini terlihat kesusahan membantu tubuhku yang gempal ini untuk
berdiri. Setelah ini aku aka berniat untuk diet.
“Nggap
apa-apa Dot…tapi dengkulku kayaknya retak nih”jawabku sambil meringis. Kulihat
pak Anas dan beberapa teman lain sudah merubungku. Gila…pagi-pagi sudah jadi
tontonan atraksi gajah nungging. Huwhh…
“Kamu
kenapa kok tiba-tiba nyosop? belum
sarapan ya?”tanya Pak Anas dengan memasang tampang prihatin. Apa menurut pria
bermata sipit ini aku seperti penderita busung lapar?
“Kesandung
Pak…aku nggak lihat kalau ada batu,”jawabku sambil menunjuk hamparan kerikil di
bawah kakiku.
“Batu???”tanya
mereka bersamaan sambil celingak celinguk.
“Tadi
ada kok…”jawabku sambil garuk-garuk kepala.
“Sepertinya
William harus pakai kacamata seperti aku deh,”usul Fais sambil tersenyum, cewek
berkacamata itu terlihat senang dapat hiburan pagi-pagi. Senyumnya manis
sekali. Tak apalah aku jatuh 1000 kali, asal bisa melihat Fais tersenyum.
“William…William,”celetuk
Pak Anas sambil terkekeh. Emang kenapa dengan namaku? Memangnya nggak pantes ya
gajah bengkak punya nama sekeren ini? Begini-begini ibuku dulu bercita-cita
agar anaknya seganteng Pageran William, tapi sepertinya cita-citanya nggak
kesampaian. Sungguh malang ibuku.
Tanpa
menanggapi mereka, aku terus berjalan menuju perpustakaan, sambil terseok ku tinggalkan
mereka yang masih cekikikan bahagia. Sial benar aku hari ini. Dua kali
kesandung gara-gara batu, dua kali pula aku tidak menemukan batu itu. Lalu aku kesandung
apa?
Ahhh…
Begitu
masuk perpustakaan, Mas Peje, petugas perpustakaan berbadan kurus itu sudah
menyapaku. Sungguh ramah pria ini. Cukup menetralisir kedongkolan hatiku.
Di
dalam pun masih sepi, hanya ada empat anak yang sedang memilih-milih buku. Ku
hampiri saja mereka sambil melihat-lihat buku. Tapi belum sampai dapat buku
yang aku ingin kan, Pak Anas dan gerombolannya sudah masuk sambil
senyum-senyum. Waktunya belajar dimulai.
***
Kelas
menulis hari ini terasa lengang, hanya ada 11 peserta. Kami bersebelas
duduk bersila dalam diam dengan pikiran
masing-masing. Mendengarkan pelajaran baru dari Pak Anas. Pria yang suka
memakai celana pendek ini terlihat ceria membimbing kami. Mungkin karena
pagi-pagi sudah dihibur oleh badut nyosop. Sesekali suara kendaraan di
jalan raya terdengar mengiringi suara pak Anas. Membentuk simfoni kedamaian.
Begitu tenang. Jauh dari kata bising.
Ketenangan
ini menyejukkan. Meskipun kipas angin di atas kami berputar dengan sangat
pelan, hawa sejuk dari luar bisa kami rasakan. Membuat kami lebih bisa
menikmati suasana belajardengan khidmat. Setiap kata yang kami petik tercerna
baik. Tanpa hawa panas, tanpa keramaian. Lengang tapi damai. Sepi tapi
memancarkan semangat.
***
Kali
ini kami dapat tugas mendeskripsikan suasana di Sanggar guna. Sumpah aku
kebingungan. Lima menit pertama kertasku masih kosong. Kulihat sekeliling.
Bendot terlihat celingak celinguk sambil ndelosor di lantai. Jaket abu-abu yang
semula menempel di tubuhnya sudah tergeletak begitu saja disampingnya. Cari
inspirasi saja sampai segitunya.
Kemudian ku
lihat Fais, ia begitu serius berkutat dengan tulisannya. Kupandangi terus wajah
cantiknya yang makin bersinar dengan jilbab ungu yang dipakainya. Dia melirikku
sebentar. Buru-buru aku menulis entah apa di kertasku. Jantungku berdebar nggak
karuan. Baru dilirik saja sudah kayak gini. Huft…mukaku pasti sudah seperti
kepiting rebus.
Terus saja
kucorat-coret kertasku yang sudah coreng moreng dengan tulisan yang tidak
jelas. Bahkan ketika kukumpulkan, aku tidak tahu dengan pasti apa yang kutulis.
Sial…Fais sudah mengacaukan pikiranku.
***
Ketika
pelajaran usai, kami bersama-sama menyantap melon di gubuk samping sanggar.
Dengan rakusnya aku sudah habis satu piring dengan mulut terus saja nyerocos
bersama Bendot dan Usul. Kulihat Fais dan Sari datang dengan malu-malu
menjumput satu iris melon di piring setelah dipaksa Pak Anas. Tapi setelah itu
mereka langsung pergi. Ahhh…kenpa dia buru-buru pergi? Kupandangi saja
punggungnya dengan balutan terusan ungu yang membuatnya semakin anggun.
Seperti
terhipnotis, aku pun bangkit setelah tak kulihat punggung Fais. Kudengar Usul
memanggil,”Will…mau kemana?”
“Pulang,”jawabku
singkat tanpa menoleh ke arah cowok cungkring yang memakai kemeja garis-garis
itu.
Tapi
begitu sampai di tempatku memarkir sepeda motor, Fais sudah tak nampak.
Hahhh…cepat sekali hilangnya. Akhirnya kuputuskan untuk langsung pulang. Kalau
aku tidak bengong seperti babi kekenyangan, pasti sekarang aku sudah mengikuti
Fais dan tahu dimana rumahnya.
Langit
mendadak gelap. Angin bertiup sangat kencang. Segera kupercepat laju sepeda
motorku. Di depanku ada sebuah truk pengangkut batu kapur. Terpal penutup bak
terlihat berkibar-kibar tertiup angin yang kencang. Tiba-tiba..
“Bruk!Bruk!Bruk!”
lima bongkah batu kapur jatuh tepat didepanku. Tanpa bisa menghindar lagi,
sepeda motorku menabrak bongkahan besar itu. Sepeda motorku langsung oleng tak
karuan. Segera ku injak rem kaki dan menggenggam rem tangan sekuat-kuatnya.
Malaikat maut seolah melambai-lambai kepadaku. Oh Tuhan…kenapa aku mati dengan cara
seperti ini? jalanan sedang sepi, siapa yang akan menolongku?
Ternyata
malaikat maut hanya menyapaku saja. Aku berhasil menghentikan sepeda motorku
dipinggir jalan. Nafasku terengah-engah. Jantungku berdegup tak karuan. Setelah
merasa agak tenang, kulanjutkan lagi perjalanku. Tapi emosiku meledak-ledak,
ingin sekali aku menghajar sopir truk itu. Kenapa terpalnya tidak diikat dengan
kuat? Itu berbahaya sekali!
Sesampainya
di rumah,aku segera membuka kulkas dan menenggak habis air putih dalam botol.
“Habis
jongging ya Will? Kamu berniat diet ya sekarang? Bagus-bagus..” tanya ibu
sambil memutar-mutar tuning radio tua
kesayangannya.
“Aku
hampir mati Bu,”jawabku sambil menyelonjorkan kaki di lantai.
“Kok
bisa?” wajah wanita berbadan kurus itu terlihat khawatir.
“Tadi
aku habis nabrak batu kapur segede helm,”
“Batu
darimana?”
“Jatuh
dari truk, terpalnya nggak ditali, batunya pada jatuh di depanku. Huhhh…pengen
banget aku nonjok muka sopirnya. Kalau perlu aku cekik sekalian biar mampus,” omelku
penuh emosi.
“Terus
batunya dimana?
“Ya di jalan”
“Kenapa nggak
kamu singkirkan batu-batu itu dari jalan? Kamu kan masih diberi hidup, apa
salahnya menyelamatkan kehidupan orang lain juga? Kasihan kan kalau ada orang
yang nggak tahu ada batu di jalan, terus ditabrak.” cecar ibuku sambil merengut.
Kemudian wanita itu bangkit meninggalkanku.
Mendengar
rentetan pertanyaan ibu, aku seperti tersambar petir di siang bolong. Sayup-sayup
kudengar siaran dari radio yang ditinggalkan ibu bahwa telah terjadi kecelakaan
beruntun di jalan Ahmad Yani. Itu jalan yang kulewati tadi. Seketika itu juga
tubuhku terasa lemas dan ambruk di
lantai. Kulihat malaikan maut mengintip dari balik pintu.
Ika
Fari
22
Februari 2012
Istana
Peri
Monday, 13 February 2012
Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta
Pengarang : Muhidin
M. Dahlan
Penerbit : Jendela (Yogyakarta)
Ukuran Halaman : 12 x 18 cm
Jumlah Halaman : 356
Tahun Terbit : 2003
Sebenarnya,
saya mendapat pinjaman buku ini secara tidak sengaja. Sebelumnya memang saya
dan seorang teman mengobrolkan tentang beberapa pengarang dan pemikirannya. Dan
nama Muhidin M. Dahlan muncul sebagai salah satu topik obrolan kami lantaran
namanya ada di salah satu artikel yang dikliping oleh temanku tersebut.
Penulis
yang biasa disapa Gus Muh ini, kata temanku, adalah seorang penggemar beratnya
Pramoedya Ananta Tour. Terbukti dari beberapa resensinya yang dimuat selalu
menyangkutkan Mbah Pram. Nah…dari situ barulah aku tahu sedikit tentang Gus
Muh.
Terlepas
dari bagaimana saya bisa meminjam buku ini, ternyata buku berukuran 12x8 cm ini
cukup memiliki magnet untuk menarik saya. Padahal waktu itu ada tiga buku lain
ada di hadapanku. Ya…sayapenasaran dengan gambar pertokoan tua disampul depan
yang kemudian saya tahu kalau itu adalah kartu pos “Malioboro Street, Djogdjakarta
1938. Begitu yang tertulis di halaman sampul.
Nah…itu
dia…saya suka sekali hal-hal yang berbau Jogja. Dan dengan buku ini saya seolah
dibawa melesat ke Jogja dan merasakan atmosfer Jogja kala itu. Gus Muh yang dengan
gayanya yang realis berhasil membius saya untuk membaca buku ini sampai
selesai.
***
Ketika
membaca Catatan Pembuka Transkiptor, ada sepenggal kalimat yang membuat saya
merenungi kata-katanya :
“Scripta manent verba Volant-yang tertulis
akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin”
Lagi…lecutan untuk
menulis. Sebegitu besarkah kekuatan tulisan? Ahh..tapi kalau dipikir-pikir
memang benar. Memori manusia memang sangat terbatas, dan untuk membantu kinerja
memori, kita butuh catatan, butuh tulisan. Bukan begitu?
Masih dibagian
awal tersebut, penulis cukup membuat saya tersenyum-senyum dengan gaya
penulisannya yang blak-blakan dan menggelikan, tak jarang dia mengeluarkan
umpatan yang alami, tidak terkesan dibuat-buat.
Di Pengakuan
Kesatu (keseluruhan, ada 12 pengakuan), penulis menceritakan masa kecilnya yang
sangat jauh dari yang namanya buku bacaan. Diceritakan pula bagaimana
kehidupannya yang miskin di daerah pelosok.
Kehidupan yang
keras membuatnya harus bekerja memetik cengkeh untuk membeli buku cetak
(sebutan untuk buku pelajaran sekolah yang dipakai acuan oleh gurunya). Di masa
itu ia menyebut dirinya mempunya tiga rabun sekaligus. Rabun membaca, rabun
menulis, dan rabun berhitung lantaran dalam semua pelajaran dia hanya
mengandalkan hafalan sedangkan sebenarnya ia sama sekali tidak mengerti yang
diajarkan di sekolah waktu itu. Meski menyandang tiga rabun sekaligus, ia lulus
dengan predikat terbaik di tiga kecamatan.
Kerabunannya
berangsur-angsur sembuh ketika dia melanjutkan sekolah ke STM di kota. Dari
situ ia mulai mengenal buku bacaan dan ikut organisasi. Kegandrungannya akan
buku mulai menjadi ketika ia kuliah di Jogja, dengan uang pas-pasan dari kampung
halamannya, ia bukannya kuliah dengan serius tapi malah membelanjakannya untuk
membei buku dan sisanya untuk makan.
Dan ketika masuk
keredaksian Majalah Kampus, dia mulai belajar menulis. Awalnya dia hanya
menyalin dari buku dengan beberapa tambahan. Tapi semangatnya untuk menulis
begitu menggebu, dia sering menulis ke Koran, dan sering pula ditolak. Meski
begitu tak ada kata menyerah untuk menulis. Baginya dia tidak mempunyai
kemampuan apa-apa selain menulis.
Hingga kemudian
dia ditawari temannya bekerja di penerbitan, dengan gaji yang sangat kecil dia
mengabdikan diri di penerbitan tersebut. Hingga kuliahnya pun keteteran dan di
DO. Tapi konflik dengan atasannya terjadi dan dia keluar hingga ditawari di
sebuah penerbitan, kondisinya pun tak jauh beda. Cerita berakhir tanpa ada
keberhasilan dalam diri si Aku dalam cerita tersebut.
Tapi ada yang
begitu menarik di tulisan ini, semangat si Aku yang luar biasa dalam dunia buku
dan tulis menulis patut diacungi jempol. Meski dalam kondisi yang serba
kekurangan, bahkan kemana-mana ia hanya ditemani sepeda bututnya, ia tidak
pernah berhenti menulis. Saya tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada
saya. Semangant saya belum seujung kukunya.
Overall, banyak
yang bisa diambil dari buku ini, terutama tentang dunia penerbitan yang ada di
Jogja. Seperti yang di tulis tangan oleh Gus Muh sendiri di halaman depan “Penerbit Jogja itu aneh dan lucu-lucu.”
(Saya semakin ingin menghabiskan sisa umur
saya di Jogja…)
Ika Fari
11 Februari 2012
Gubuk Peri
Tuesday, 7 February 2012
Menguburku
Diam memelihara kediaman
Beku memelihara kebekuan
Tapi aku tak berniat beranjak
Biarkan saja aku terinjak
Pekat itu mengabut
Pandanganku turut mengabur
Biar saja berjelaga
Perlahan aku terkubur
Terima kasih untuk lambaian itu
Cukup kau menikamku
Aku yakin kau takkan mencariku
Bahkan ketika tanah jadi temanku
Taman Peri
07 Februari 2012
Beku memelihara kebekuan
Tapi aku tak berniat beranjak
Biarkan saja aku terinjak
Pekat itu mengabut
Pandanganku turut mengabur
Biar saja berjelaga
Perlahan aku terkubur
Terima kasih untuk lambaian itu
Cukup kau menikamku
Aku yakin kau takkan mencariku
Bahkan ketika tanah jadi temanku
Taman Peri
07 Februari 2012
Saturday, 4 February 2012
Suwoto, Pengusaha Belimbing di Ngringinrejo, Kalitidu
Sarjana Teknik Industri Memilih jadi Petani
Berawal dari lowongan menjadi kamituo di desanya, Suwoto mau tak mau menyelami bidang yang berbeda dengan latar belakang pendidikannya. Menjadi petani belimbing. Bersama warga desa, ia mengembangkan segala hal yang berhubungan dengan belimbing.
Ketika mobil yang kami tumpangi berhenti di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitudu, Kabupaten Bojonegoro, pohon-pohon dengan buah kuning bergelantungan mulai menyambut kami. Hawa sejuk mulai merasuk dan mata dimanjakan oleh ratusan pohon belimbing yang tertanam rapi berjejer di perkebunan belimbing tersebut. Pohonnya tidak begitu tinggi dan tidak rimbun. Buahnya juga tidak terlalu banyak, maklum, belum musim panen. Tapi di setiap pohon masih ada beberapa buah belimbing yang ranum dan besar. Membuat siapa saja yang melihat tergiur untuk menikmatinya. Disana, kami disambut oleh seorang pria kurus berkulit coklat.
Penampilannya sangat bersahaja. Memakai celana abu-abu yang dilipat sampai di atas mata kaki, kaos warna coklat bertuliskan ‘Sub Gasolin’ yang sudah pudar warnanya, topi coklat hitam bertuliskan ‘ Oukley’, beserta tas warna coklat yang compang-camping dan resletingnya sudah rusak. Ketika pertama kali melihat, pasti tidak menyangka bahwa dia adalah Suwoto, pemilik 380 pohon belimbing di desa Ngringinrejo, Kalitidu, Bojonegoro.
Woto, begitu ia akrab disapa, begitu ramah dan terbuka menjawab pertanyaan dari anggota kelas menulis Sanggar Guna yang bertandang ke kebun belimbing miliknya minggu lalu (29/1). Semua pertanyaan yang diajukan dijawab dengan tegas dan sangat jelas.
Kendati tidak ada yang istumewa dari penampilannya, pengetahun tentang segala hal yang berhubungan dengan belimbing patut diacungi jempol. Mulai dari proses penanaman awal, pemupukan, pemeliharaan, pengembangan, pembuatan pupuk, dan pemanfaatan belimbing.
Pria yang pernah menimba ilmu di Fakultas Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang ini menjelaskan bahwa awalnya belimbing-belimbing di Ngringinrejo berasal dari belimbing di Siwalan, Tuban, yang dibawa oleh mbah Suyoto dan mbah Nur. Dulu, lahan seluas 19,3 ha ini ditanami palawija, namun mulai tahun 1984 mulai ditanami pohon belimbing. Dan sejak tahun 1992 seluruh lahan ditanami pohon belimbing.
Pohon belimbing yang ditanam tersebut tidak serta merta menghasilkan panen yang memuaskan.”Setelah empat tahun, pohon-pohon disini baru mulai menampakkan hasil,” jelas pria yang menjabat sebagai kamituo di desanya ini.
Pria yang memiliki 380 pohon belimbing ini menuturkan bahwa seluruh kegiatan perkebunan belimbing dikerjakan oleh warga desa sendiri. Mulai dari penanaman, pemanenan, hingga pemasaran.
Ketika ditanya berapa penghasilannya, Woto tidak menjelaskan secara gambling berapa nominal penghasilannya. Pria kurus ini menjelaskan bagaimana perhitungannya. Setiap pohon menghasilkan 70 kg belimbing per panen dikali harga belimbing saat itu. Dari pendapatan tersebut, 20 persennya digunakan untuk menggaji karyawannya yang berjumlah 34 orang .Gaji yang diberikan kepada karyawannya pun tak bisa dibilang kecil. Berkisar antara Rp 750.000 hingga Rp 1.500.000 per bulan.
Belimbing yang dihasilkan oleh perkebunan belimbing Ngringinrejo ini sudah diuji di Laboratorium Ketahanan Pangan. Dan hasilnya menunjukkan bahwa buah belimbing tersebut bebas dari unsur pestisida, karena memang pupuk yang digunakan adalah pupuk organik. Sehingga buah yang dihasilkan lebih empuk dan enak.
Mengenai hasil panennya sendiri, belimbing yang dihasilkan dinamain Dewo, berasal dari kata gede tur dowo (besar dan panjang). Dewo sendiri dibagi menjadi dua. Dewo 1 yang paling besar dan panjang, sedangkan Dewo 2 ukurannya sedikit lebih kecil dari Dewo 1.
Selain itu, buah yang dihasilkan juga dibagi per kelas. Ada kelas super, yang biasa disebut Dewo 1, kelas A atau Dewo 2, dan kelas B yang ukurannya kecil-kecil.
Mengenai pemasaran, di desanya sudah ada tim pemasaran yang kebanyakan adalah pemuda desa tersebut. Belimbing-belimbing tersebut dialokasikan ke hampir seluruh pasar di kabupaten bojonegoro. Bahkan ada juga pesanan dari luar kota bojonegoro.
Tak hanya menjual belimbing dalam bentuk buah asli saja. Dengan kekreatifan warga, belimbing-belimbing tersebut diolah menjadi berbagai jenis makanan dan minuman. Seperti kerupuk, dodol, selai, sirup dan sari buah belimbing. Semua itu bisa didapatkan di galeri khusus yang dibuat untuk promosi hasil olahan belimbing.
Namun, seperti halnya usaha lain. Perkebunan belimbing ini pernah mengalami stagnasi saat banjir tahun 2008 lalu. Karena pohon-pohonnya terendam setinggi hamper 3 meter selama 8 hari, maka mereka mengalami gagal panen selama setahun. Namun keadaan tersebut dapat diatasi, karena meskipun daun-daunnya rontok, pohon-pohon yang terendam tidak sampai mati.
Untuk evaluasi dan saling belajar, setiap 36 hari sekali para warga berkumpul. Dari kegiatan tersebut mereka dapat saling berbagi ilmu dan membina kerukunan untuk memajukan desanya. Berkat usaha dan kerja keras warganya dalam mengembangkan perkebunan belimbing, kini desa Ngringinrejo dijuluki Kampung Belimbing. Yang telah mengharumkan nama kota Bojonegoro.
Ika Fari
04 Februari 2012
Benteng Peri
Berawal dari lowongan menjadi kamituo di desanya, Suwoto mau tak mau menyelami bidang yang berbeda dengan latar belakang pendidikannya. Menjadi petani belimbing. Bersama warga desa, ia mengembangkan segala hal yang berhubungan dengan belimbing.
Ketika mobil yang kami tumpangi berhenti di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitudu, Kabupaten Bojonegoro, pohon-pohon dengan buah kuning bergelantungan mulai menyambut kami. Hawa sejuk mulai merasuk dan mata dimanjakan oleh ratusan pohon belimbing yang tertanam rapi berjejer di perkebunan belimbing tersebut. Pohonnya tidak begitu tinggi dan tidak rimbun. Buahnya juga tidak terlalu banyak, maklum, belum musim panen. Tapi di setiap pohon masih ada beberapa buah belimbing yang ranum dan besar. Membuat siapa saja yang melihat tergiur untuk menikmatinya. Disana, kami disambut oleh seorang pria kurus berkulit coklat.
Penampilannya sangat bersahaja. Memakai celana abu-abu yang dilipat sampai di atas mata kaki, kaos warna coklat bertuliskan ‘Sub Gasolin’ yang sudah pudar warnanya, topi coklat hitam bertuliskan ‘ Oukley’, beserta tas warna coklat yang compang-camping dan resletingnya sudah rusak. Ketika pertama kali melihat, pasti tidak menyangka bahwa dia adalah Suwoto, pemilik 380 pohon belimbing di desa Ngringinrejo, Kalitidu, Bojonegoro.
Woto, begitu ia akrab disapa, begitu ramah dan terbuka menjawab pertanyaan dari anggota kelas menulis Sanggar Guna yang bertandang ke kebun belimbing miliknya minggu lalu (29/1). Semua pertanyaan yang diajukan dijawab dengan tegas dan sangat jelas.
Kendati tidak ada yang istumewa dari penampilannya, pengetahun tentang segala hal yang berhubungan dengan belimbing patut diacungi jempol. Mulai dari proses penanaman awal, pemupukan, pemeliharaan, pengembangan, pembuatan pupuk, dan pemanfaatan belimbing.
Pria yang pernah menimba ilmu di Fakultas Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang ini menjelaskan bahwa awalnya belimbing-belimbing di Ngringinrejo berasal dari belimbing di Siwalan, Tuban, yang dibawa oleh mbah Suyoto dan mbah Nur. Dulu, lahan seluas 19,3 ha ini ditanami palawija, namun mulai tahun 1984 mulai ditanami pohon belimbing. Dan sejak tahun 1992 seluruh lahan ditanami pohon belimbing.
Pohon belimbing yang ditanam tersebut tidak serta merta menghasilkan panen yang memuaskan.”Setelah empat tahun, pohon-pohon disini baru mulai menampakkan hasil,” jelas pria yang menjabat sebagai kamituo di desanya ini.
Pria yang memiliki 380 pohon belimbing ini menuturkan bahwa seluruh kegiatan perkebunan belimbing dikerjakan oleh warga desa sendiri. Mulai dari penanaman, pemanenan, hingga pemasaran.
Ketika ditanya berapa penghasilannya, Woto tidak menjelaskan secara gambling berapa nominal penghasilannya. Pria kurus ini menjelaskan bagaimana perhitungannya. Setiap pohon menghasilkan 70 kg belimbing per panen dikali harga belimbing saat itu. Dari pendapatan tersebut, 20 persennya digunakan untuk menggaji karyawannya yang berjumlah 34 orang .Gaji yang diberikan kepada karyawannya pun tak bisa dibilang kecil. Berkisar antara Rp 750.000 hingga Rp 1.500.000 per bulan.
Belimbing yang dihasilkan oleh perkebunan belimbing Ngringinrejo ini sudah diuji di Laboratorium Ketahanan Pangan. Dan hasilnya menunjukkan bahwa buah belimbing tersebut bebas dari unsur pestisida, karena memang pupuk yang digunakan adalah pupuk organik. Sehingga buah yang dihasilkan lebih empuk dan enak.
Mengenai hasil panennya sendiri, belimbing yang dihasilkan dinamain Dewo, berasal dari kata gede tur dowo (besar dan panjang). Dewo sendiri dibagi menjadi dua. Dewo 1 yang paling besar dan panjang, sedangkan Dewo 2 ukurannya sedikit lebih kecil dari Dewo 1.
Selain itu, buah yang dihasilkan juga dibagi per kelas. Ada kelas super, yang biasa disebut Dewo 1, kelas A atau Dewo 2, dan kelas B yang ukurannya kecil-kecil.
Mengenai pemasaran, di desanya sudah ada tim pemasaran yang kebanyakan adalah pemuda desa tersebut. Belimbing-belimbing tersebut dialokasikan ke hampir seluruh pasar di kabupaten bojonegoro. Bahkan ada juga pesanan dari luar kota bojonegoro.
Tak hanya menjual belimbing dalam bentuk buah asli saja. Dengan kekreatifan warga, belimbing-belimbing tersebut diolah menjadi berbagai jenis makanan dan minuman. Seperti kerupuk, dodol, selai, sirup dan sari buah belimbing. Semua itu bisa didapatkan di galeri khusus yang dibuat untuk promosi hasil olahan belimbing.
Namun, seperti halnya usaha lain. Perkebunan belimbing ini pernah mengalami stagnasi saat banjir tahun 2008 lalu. Karena pohon-pohonnya terendam setinggi hamper 3 meter selama 8 hari, maka mereka mengalami gagal panen selama setahun. Namun keadaan tersebut dapat diatasi, karena meskipun daun-daunnya rontok, pohon-pohon yang terendam tidak sampai mati.
Untuk evaluasi dan saling belajar, setiap 36 hari sekali para warga berkumpul. Dari kegiatan tersebut mereka dapat saling berbagi ilmu dan membina kerukunan untuk memajukan desanya. Berkat usaha dan kerja keras warganya dalam mengembangkan perkebunan belimbing, kini desa Ngringinrejo dijuluki Kampung Belimbing. Yang telah mengharumkan nama kota Bojonegoro.
Ika Fari
04 Februari 2012
Benteng Peri
Suka Olahraga Tidak sih Anak Sekarang? (Depthnews Tim 1 untuk Bloc Bojonegoro Goes to School)
Suka Olahraga Tidak sih Anak Sekarang?
Senangnya melihat anak-anak SD berlenggak-lenggok dengan riangnya di halaman sekolah. Benar-benar lucu dan menggemaskan. Eits…mereka tidak sekedar berlenggak-lenggok lho…setiap pagi, di setiap sekolah dasar diadakan senam pagi bersama. Tujuannya tentu saja agar anak-anak lebih sehat dan bersemangat menerima pelajaran di sekolah.
Anak-anak SD dan Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Bojonegoro ini ternyata senang sekali berolahraga. Terbukti, dari polling Tim Goes to School (GtS), 100 persen blocker Gts mengaku suka berolahraga.
Alasannya pun beragam. Seperti yang diungkapkan Fikram Dzaki M, siswa SDN Kauman 1 Bojonegoro. Anak yang biasa disapa Fikram ini mengaku suka berolahraga karena selain sehat juga bisa membuat badan kekar.
Jawaban menggelikan lain datang dari Rose Diantika Rini. Ketika ditanya alasan mengapa menyukai olahraga, dengan entengnya Dian menjawab,“Karena bisa melatih kelenturan tubuh,” jelas siswi SDN Kadipaten 2 ini dengan polosnya.
Ketika ditanya olahraga apa yang disukai mereka, jawabannyannya pun beragam. Dan yang menjadi olahraga favorit blocker GtS adalah olahraga renang. Alasannya, selain untuk meninggikan badan, olahraga air ini juga bisa melatih pernafasan.
Favorit kedua adalah sepakbola, olahraga yang juga menjadi olahraga nomer satu di dunia ini juga cukup digemari blocker Gts, rata-rata mereka mengaku ingin seperti pemain bola favoritnya. Kemudian, yang menduduki peringkat ketiga polling tim GtS adalah olahraga basket. Karena dimata mereka, olahraga basket telihat begitu keren dibanding olahraga lain.
Meskipun 100 persen blocker menyukai olahraga, namun 54 persen blocker mengaku belum pernah ikut kompetisi apapun dalam bidang olahraga. Dan hanya 46 persen blocker saja yang pernah ikut kompetisi. Menurut 46 persen blocker tersebut, dengan ikut kompetisi, mereka bisa mendapatkan banyak teman dan menguji nyali mereka.
Seperti yang diungkapkan Rezza Oktavianti. Anak perempuan bertubuh tambun ini mengaku pernah ikut POR SD dalam cabang olahraga panahan tahun 2011 lalu. Tidak tanggung-tanggung, dalam kompetisi tersebut siswi SDN Kauman 1 Bojonegoroini telah menyabet dua medali perunggu dan tiga medali perak. Siswi kelas 6 ini merasa senang bisa membanggakan orang tua dengan prestasi yang diraihnya tersebut.
Hal senada diungkapkan oleh Patrick, meski siswa SD Santo Paulus ini hanya ikut kompetisi catur tingkat sekolah, ia merasa sangat senang. Pasalnya, dengan ikut kompetisi, ia bisa melatih keberanian dan kemampuan dalam memainkan olahraga favoritnya tersebut.
JUMLAH BLOCKER : 140
70 CEWEK (50%)
70 COWOK (50%)
SUKA OLAHRAGA?
SUKA : 140 (100 %)
TIDAK : 0 (0 %)
OLAHRAGA FAVORIT:
RENANG : 33
SEPAK BOLA : 31
BASKET : 18
LAIN-LAIN : 58
PERNAH IKUT KOMPETISI?
BELUM : 75 (46 %)
PERNAH : 65 (54 %)
Dukungan Berolahraga
Prestasi olahraga anak SD di Bojonegoro cukup membanggakan, ini terbukti dari POR SD/MI yang diselenggarakan di Sidoarjo pada tanggal 21 s/d 26 november 2011, Menduduki peringkat 6 dari 38 kota / kabupaten se Jawa Timur.
Prestasi gemilang yang diraih oleh para siswa ini tak lepas dari orang – orang di sekitarnya serta fasilitas yang ada. Dalam hal ini khususnya orang tua, sangat berpengaruh bagi mereka. Orang tua harus selalu mendukung minat bakat anak agar hal tersebut bisa menjadi prestasi membanggakan. Seperti yang di ungkapkan M Rozi orang tua Intan, salah seorang anak yang berlatih di gedung Perdana Jaya. Dia selalu memberi motivasi kepada anak – anaknya agar mengembangkan bakat yang dimilikinya, serta merealisasikan dukungan tersebut dengan mengantar putrinya berlatih.
“Walaupun rumah saya jauh, saya siap mengantarkan Intan tiga kali seminggu ke gedung tenis meja ini,” ujar pria asal Singgahan, Tuban ini.
Dukungan yang sama juga disampaikan oleh kepala sekolah SDN Kauman 1, kecamatan kota, Nurasih. Dikatakan bahwa dia akan mendukung apapun yang dilakukan, agar bisa membuat nama baik sekolahnya terkenal, “Pokoknya saya selalu mendukung apapun yang dilakukan untuk mengharumkan nama baik sekolah ini,” ujar perempuan berjilbab ini.
Back up serupa juga dilakukan oleh Suratmi. Guru olahraga SDN Kauman ini menjelaskan bahwa dia sibuk mengatur jadwal untuk anak didiknya. Bahkan perempuan paruh baya ini menjelaskan bahwa akan ada hari yang dikhususkan untuk kegiatan ekstrakurikuler pagi, “ SDN Kauman 1 ini mulai besok sabtu ada hari khusus, maksudnya non pelajaran. Pada hari itu full digunakan untuk anak yang ingin berprestasi, istilahnya asah minat bakat,” tegas wanita dengan tinggi badan 151 cm tersebut. Hal ini dilakukan agar anak didik tidak ketinggalan pelajaran juga tidak mengabaikan olahraganya.
Selain pihak orang tua dan sekolah yang telah mendukung prestasi olahraga. Muhni, salah satu pelatih tenis meja di gedung Perdana Jaya, selalu stand by di gedung yang berada di jalan Lettu Suyitno no. 67, Bojonegoro. Latihannya sendiri dimulai jam tiga sore hingga menjelang maghrib. Dari hari senin sampai sabtu. Untuk memberikan pelatihan kepada anak yang berminat mengembangkan bakatnya di bidang tenis meja.
Muhni bertugas membina anak yang baru berlatih tenis meja, di gedung yang berada dekat tambang pasir Mulyoagung tersebut. Ada beragam usia dan kalangan yang belajar tenis meja. Mulai dari usia SD, SMP, SMA, bahkan ada juga yang dari SLB. Pria dengan gaya cool ini mengaku kesulitan melatih anak – anak pemula yang ingin belajar. “Kuncinya harus sabar Mas,” tegasnya.
Dengan berbagai prestasi olahraga siswa SD ini, dinas pendidikan merespon positif. Sahari, kasi diklat Dinas Pemuda dan Olahraga, sering memberi pelatihan dan motifasi kepada sejumlah sekolah di Bojonegoro. Agar sekolah mempunyai atlet binaan dan menambah nilai plus klub – klub olahraga.
“Jadi setiap ada kegiatan olahraga selalu update, agar tidak ketinggalan. Saya juga sering mengajak rekan-rekan sharing mengenai kemajuan prestasi olahraga di Bojonegoro,” jelas pria berkacamata ini.
Dukungan yang dilakukan dari berbagai pihak ini ternyata membuahkan hasil yang cemerlang, terbukti kota Bojonegoro dalam mengikuti POR SD – MI yang diadakan di Sidoarjo mampu meraih 4 medali emas, 3 medali perak dan 3 medali perunggu.
Melihat Sisi Lain di Balik Sang Jawara Tenis Meja di Bojonegoro
Berawal dari dukungan berbagai pihak di sekitarnya, prestasi belum sepenuhnya dapat maksimal jika tanpa sarana yang juga seirama. Namun dengan adanya fasilitas yang mendukung, seperti sarana Gedung Olah Raga atau yang biasa dikenal dengan GOR. Para atlet di Bojonegoro khususnya tenis meja tidak semudah itu dapat mencapai puncaknya. Hal ini dapat kita lihat bahwa segudang prestasi yang di miliki Kota Ledre ini, tidak terlepas dari induknya.
Begitu pula dengan Gedung Perdana Jaya dan Gedung 369. Gedung ini sudah sangat terkenal. Atlet dari sekolah di Kabupaten Bojonegoro yang pernah menjuarai olahraga Bulu tangkis dan tenis meja pasti tahu. Soalnya itu tempat mereka berlatih tiap hari.
Nah, gedung Perdana Jaya itu tempat belatihnya atlet pemula yang ingin bisa tenis meja. Gedungnya luas, disana ada robotnya. Ada 6 buah meja yang dipakai mengasah anak didiknya. Di sana juga ada pelatih yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Dan tentu saja kepeduliannya kepada siapa saja yang ingin bisa.
PJ adalah nama keren dari gedung Perdana Jaya yang beralamat di Jalan Lettu Suyitno nomor 67 Bojonegoro. Terletak di desa Margomulyo, sekilas memang tempatnya terlihat aneh. Seperti gudang ataupun lahan kosong namun di tengahnya ada bangunan berdiri kokoh berwarna Putih. Bangunan itu di kelilingi oleh gundukan pasir yang mulai ditumbuhi rumput liar. Di halaman depannya juga terdapat bengkel mobil. Gubuk berpintu besi itulah yang mengantarkan atlet tenis meja pemula hingga bisa menuju ke gedung 369.
Tempat ini telihat sepi karena pagi hari dan orang yang baru lewat mungkin tidak tahu ini tempat apa. Karena, kalau pagi memang belum buka. Sementara jam bukanya adalah jam 3 sore sampai jam 6 sore.” Bagi yang memiliki bakat terpendam tentang tenis meja atau yang ingin bisa, jangan pernah merasa malu untuk berlatih di tempat itu,” ungkap Mubarak, salah satu pelatih yang ada di PJ.
Gedung 369
Siapa sih yang nggak kenal, dari anak SD hingga orang petingi-petinggi di Bojonegoro semua tahu. Ini adalah GOR-nya orang tenis meja dan Bulu tangkis. Hal ini di ungkapkan oleh bapak M. Muslih, pengelola gedung 369, “sini itu sudah terkenal, meskipun belum lama berdiri. Soalnya ini sering dipakai oleh orang2 terkenal. Mulai bupati, kapolres, pejabat-pejabat juga banyak yang datang.”
ini memang terlihat seperti gudang atau pabrik. Pasalnya kawasan jalan WR Supratman itu di dominasi dengan kawasan pergudangan. Ini dapat kita lihat bahwa depan gedung ada juga gudang tembakau milik PT Gudang Garam. Sedangkan tepat di belakangnya terdapat gudang juga yaitu gudang milik Bentoel Biru dan sebelah kirinya adalah tempat pembloweran beras.
Namun hal itu juga tidak membingungkan para olahragawan tenis meja yang ingin mengasah kemampuannya. Bahkan mulai tahun 2012, pengelola menceritakan bahwa ia setiap hari selalu stand by di sini. Ia menjelaskan, bahwa sewaktu-waktu bupati atau ada kapolres, pejabat dan dokter yang ingin berlatih ia tidak perlu bolak-balik dari rumahnya yang berada di Dander.
Ada siapa dalam gedung?
Bagi atlet tenis meja, pasti akrab dengan mantan atlet nasional Clasius Lolobua. Ia adalah pelatih yang didatangkan oleh pemilik Perdana Jaya yaitu bapak Handoko. Laki-laki alumni Fakultas Hukum UGM angkatan 86 ini menjelaskan bahwa dirinya disini diminta untuk melatih anak bojonegoro yang ingin bisa tenis meja dan membina anak yang memiliki bakat di bidang ini.
“Yang di sini semua anak-anak juga berawal dari nol (baca : tidak bisa sama sekali), tetapi mereka ini punya semangat tinggi. Yang tidak kalah penting, juga harus mendapatkan dukungan penuh baik dari sekolah maupun keluarga. Karena kedua pihak itu diharapkan bisa mengerti kalau ada turnamen, dan harus latihan rutin. Dan motivasi serta dispensasi selalu diberikan untuk anak didik yang hendak ikut bertanding,” ungkap pria asal Makasar itu.
Untuk saat ini, atlet binaan yang dilatih oleh pria berusia 53 itu ada 15 anak. Mereka semua berasal dari berbagai daerah. Namun hal tersebut mendapat acungan jempol, karena atlet yang ia bina adalah atlet yang mampu meraih target juara.
Turnamen terakhir diikuti adalah Piala Dwi Bengawan Solo, yang pesertanya meliputi seluruh Jawa. Acara itu baru saja dilaksanakan tanggal 22 s/d 23 Januari 2012 kemarin. Sebagai juara pertama kadet putra yang di raih oleh Zahru, Siswa SMA 3. Tak hanya itu, Zahru, yang baru menginjak SMA ini juga sekaligus menggaet juara 3 ujntuk tunggal putra. Digi, peraih juara 1 kadet putri juga membawa nama baik Bojonegoro dalam ajang tersebut.
Kemudian, yang kedua Piala TVRI Nasional tanggal 15 s/d 18 September di Semarang. Turnamen ini di ikuti oleh Sandy, juara 1 kadet putra dan Zahru kadet putra yang mendapatkan juara keduanya. Berdasarkan catatan prestasi yang diperoleh atlet, selama dua tahun ini selalu mengikuti pertandingan dan hampir selalu mendapatkan juara. Meskipun pernah sekali ada turnamen yang tidak mendapat apa-apa saat big match, namun hal tersebut selalu menjadi motivasi untuk para atlet agar lebih giat berlatih.
“Hampir setiap bulan ada turnamen, dan kami juga selalu ikut. Ini saja kemarin baru saja pulang langsung intensif latihan,” cerita mantan atlet nasional.
Melihat Sisi Lain di Balik Sang Jawara Tenis Meja di Bojonegoro
Berawal dari dukungan berbagai pihak di sekitarnya, prestasi belum sepenuhnya dapat maksimal jika tanpa sarana yang juga seirama. Namun dengan adanya fasilitas yang mendukung, seperti sarana Gedung Olah Raga atau yang biasa dikenal dengan GOR. Para atlet di Bojonegoro khususnya tenis meja tidah semudah itu dapat mencapai puncaknya. Hal ini dapat kita lihat bahwa segudang prestasi yang di miliki Kota Ledre ini, tidak terlepas dari induknya.
Begitu pula dengan Gedung Perdana Jaya dan Gedung 369. Gedung ini sudah sangat terkenal. Atlet dari sekolah di Kabupaten Bojonegoro yang pernah menjuarai olahraga Bulu tangkis dan tenis meja pasti tahu. Soalnya itu tempat mereka berlatih tiap hari.
Nah, gedung perdana jaya itu tempat belatihnya atlet pemula yang ingin bisa tennis meja. Gedungnya luas, disana ada robotnya. Ada 6 buah meja yang dipakai mengasah anak didiknya. Di sana juga ada pelatih yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Dan tentu saja kepeduliannya kepada siapa saja yang ingin bisa.
PJ adalah nama keren dari gedung Perdana Jaya yang ber alamat di Jalan lettu Suyitno nomor 67 Bojonegoro. Terletak di desa Margomulyo,sekilas memang tempatnya terlihat aneh. Seperti gudang ataupun lahan kosong namun di tengahnya ada bangunan berdiri kokoh berwarna Putih.. Bangunan itu di kelilingi oleh gundukan pasir yang mulai ditumbuhi rumput liar. Di halaman depannya juga terdapat bengkel mobil. Gubug berpintu besi itulah yang mengantarkan atlet tenis Meja pemula hingga bisa menuju ke gedung 369.
Tempat ini telihat sepi karena pagi hari dan orang yang baru lewat mungkin tidak tahu ini tempat apa. Karena, kalau pagi memang belum buka. Sementara jam bukanya adalah jam 3 sore sampai jam 6 sore.” Bagi yang memiliki bakat terpendam tentang tenis meja atau yang ingin bisa, jangan pernah merasa malu untuk berlatih di tempat itu,” ungkap , salah satu pelatih yang ada di PJ.
Berprestasi di Olah Raga, Jeblok di Pelajaran
Seorang anak yang berprestasi dalam bidang olah raga pastinya sangat membanggakan. Namun bagaimana dengan nilai pelajarannya di sekolah?
Fenomena yang terjadi, anak yang prestasinya di bidang olah raga cemerlang, namun di pelajarannya di sekolah nilainya biasa-biasa saja, bahkan ada yang jeblok.
Semua tergantung dari diri anak tersebut. Memang ada tipe anak yang prestasi di bidang olah raganya bagus, namun di pelajarannya biasa saja. Ada juga yang nilai akademiknya bagus, namun tidak memiliki prestasi di bidang non akademik. Bahkan ada juga yang non akademik berprestasi, akademiknya juga berprestasi.
Seperti yang di ungkapkan guru olah raga di MINU, bahwa memang ada anak yang lebih menonjol prestasinya di salah satu bidang.
“Misalkan di sekolah ini, ada anak yang berprestasi di olah raga bulu tangkis, namun nilai pelajarannya biasa saja. Ada juga anak yang lebih menonjol di pelajaran, namun tidak mempunyai prestasi di bidang lainnya. Ada kelebihan, ada juga kekurangan, dan keduanya saling mengisi,” papar guru yang tidak mau disebutkan namanya tersebut.
Untuk mengimbangkan antara prestasi akademik dan non akademik, tak lepas upaya dari sekolah untuk memberikan tambahan pada siswa yang kebetulan mengikuti event waktunya bersamaan dengan waktu pelajaran di sekolah.
Seperti yang dipaparkan oleh Sony Alpha Prasetya, guru olah raga di SDN Kadipaten II, bahwa ketika siswa sedang ada kompetisi bersamaan dengan waktunya belajar di sekolah, maka akan diberikan tambahan bimbingan belajar.
“Agar pelajarannya tidak tertinggal ketika siswa sedang mengikuti pertandingan pas jam pelajaran, maka akan diberikan les di sore hari. Jadi pelajaran mereka tidak tertinggal dari yang lainnya.” jelas bapak satu anak ini.
Tingkah laku di sekolah, anak yang berprestasi sama dengan siswa yang lainnya, tidak sombong ataupun memilih-milih teman. Bahkan anak yang berprestasi bisa membantu dalam pelajaran, dan di jadikan contoh untuk teman-temannya. Hal itu yang dilakukan oleh Sony ketika praktik olahraga renang, ia meminta atletnya untuk memberikan contoh dan membantu teman-temannya.
Mengenai tingkah laku siswa di sekolah, pemerintah telah memberlakukan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berkarakter, di mana setiap kegiatan siswa yang diberikan dapat membentuk karakter siswa. Hal itu dibenaran oleh FX Sugiatmo, kepala sekolah SD Santo Paulus.
“Tingkah laku siswa di sekolah semua sama, tidak ada perbedaan anatara siswa yang prestasi ataupun biasa. Sebelum pemerintah menetapkan pendidikan karakter, di sini sudah terbiasa memberikan pendidikan karakter pada siswa.” Terang pria asal Semarang ini. (Ika F.N.R.Kanapi, Desi S.E., Parto S.)
Senangnya melihat anak-anak SD berlenggak-lenggok dengan riangnya di halaman sekolah. Benar-benar lucu dan menggemaskan. Eits…mereka tidak sekedar berlenggak-lenggok lho…setiap pagi, di setiap sekolah dasar diadakan senam pagi bersama. Tujuannya tentu saja agar anak-anak lebih sehat dan bersemangat menerima pelajaran di sekolah.
Anak-anak SD dan Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Bojonegoro ini ternyata senang sekali berolahraga. Terbukti, dari polling Tim Goes to School (GtS), 100 persen blocker Gts mengaku suka berolahraga.
Alasannya pun beragam. Seperti yang diungkapkan Fikram Dzaki M, siswa SDN Kauman 1 Bojonegoro. Anak yang biasa disapa Fikram ini mengaku suka berolahraga karena selain sehat juga bisa membuat badan kekar.
Jawaban menggelikan lain datang dari Rose Diantika Rini. Ketika ditanya alasan mengapa menyukai olahraga, dengan entengnya Dian menjawab,“Karena bisa melatih kelenturan tubuh,” jelas siswi SDN Kadipaten 2 ini dengan polosnya.
Ketika ditanya olahraga apa yang disukai mereka, jawabannyannya pun beragam. Dan yang menjadi olahraga favorit blocker GtS adalah olahraga renang. Alasannya, selain untuk meninggikan badan, olahraga air ini juga bisa melatih pernafasan.
Favorit kedua adalah sepakbola, olahraga yang juga menjadi olahraga nomer satu di dunia ini juga cukup digemari blocker Gts, rata-rata mereka mengaku ingin seperti pemain bola favoritnya. Kemudian, yang menduduki peringkat ketiga polling tim GtS adalah olahraga basket. Karena dimata mereka, olahraga basket telihat begitu keren dibanding olahraga lain.
Meskipun 100 persen blocker menyukai olahraga, namun 54 persen blocker mengaku belum pernah ikut kompetisi apapun dalam bidang olahraga. Dan hanya 46 persen blocker saja yang pernah ikut kompetisi. Menurut 46 persen blocker tersebut, dengan ikut kompetisi, mereka bisa mendapatkan banyak teman dan menguji nyali mereka.
Seperti yang diungkapkan Rezza Oktavianti. Anak perempuan bertubuh tambun ini mengaku pernah ikut POR SD dalam cabang olahraga panahan tahun 2011 lalu. Tidak tanggung-tanggung, dalam kompetisi tersebut siswi SDN Kauman 1 Bojonegoroini telah menyabet dua medali perunggu dan tiga medali perak. Siswi kelas 6 ini merasa senang bisa membanggakan orang tua dengan prestasi yang diraihnya tersebut.
Hal senada diungkapkan oleh Patrick, meski siswa SD Santo Paulus ini hanya ikut kompetisi catur tingkat sekolah, ia merasa sangat senang. Pasalnya, dengan ikut kompetisi, ia bisa melatih keberanian dan kemampuan dalam memainkan olahraga favoritnya tersebut.
JUMLAH BLOCKER : 140
70 CEWEK (50%)
70 COWOK (50%)
SUKA OLAHRAGA?
SUKA : 140 (100 %)
TIDAK : 0 (0 %)
OLAHRAGA FAVORIT:
RENANG : 33
SEPAK BOLA : 31
BASKET : 18
LAIN-LAIN : 58
PERNAH IKUT KOMPETISI?
BELUM : 75 (46 %)
PERNAH : 65 (54 %)
Dukungan Berolahraga
Prestasi olahraga anak SD di Bojonegoro cukup membanggakan, ini terbukti dari POR SD/MI yang diselenggarakan di Sidoarjo pada tanggal 21 s/d 26 november 2011, Menduduki peringkat 6 dari 38 kota / kabupaten se Jawa Timur.
Prestasi gemilang yang diraih oleh para siswa ini tak lepas dari orang – orang di sekitarnya serta fasilitas yang ada. Dalam hal ini khususnya orang tua, sangat berpengaruh bagi mereka. Orang tua harus selalu mendukung minat bakat anak agar hal tersebut bisa menjadi prestasi membanggakan. Seperti yang di ungkapkan M Rozi orang tua Intan, salah seorang anak yang berlatih di gedung Perdana Jaya. Dia selalu memberi motivasi kepada anak – anaknya agar mengembangkan bakat yang dimilikinya, serta merealisasikan dukungan tersebut dengan mengantar putrinya berlatih.
“Walaupun rumah saya jauh, saya siap mengantarkan Intan tiga kali seminggu ke gedung tenis meja ini,” ujar pria asal Singgahan, Tuban ini.
Dukungan yang sama juga disampaikan oleh kepala sekolah SDN Kauman 1, kecamatan kota, Nurasih. Dikatakan bahwa dia akan mendukung apapun yang dilakukan, agar bisa membuat nama baik sekolahnya terkenal, “Pokoknya saya selalu mendukung apapun yang dilakukan untuk mengharumkan nama baik sekolah ini,” ujar perempuan berjilbab ini.
Back up serupa juga dilakukan oleh Suratmi. Guru olahraga SDN Kauman ini menjelaskan bahwa dia sibuk mengatur jadwal untuk anak didiknya. Bahkan perempuan paruh baya ini menjelaskan bahwa akan ada hari yang dikhususkan untuk kegiatan ekstrakurikuler pagi, “ SDN Kauman 1 ini mulai besok sabtu ada hari khusus, maksudnya non pelajaran. Pada hari itu full digunakan untuk anak yang ingin berprestasi, istilahnya asah minat bakat,” tegas wanita dengan tinggi badan 151 cm tersebut. Hal ini dilakukan agar anak didik tidak ketinggalan pelajaran juga tidak mengabaikan olahraganya.
Selain pihak orang tua dan sekolah yang telah mendukung prestasi olahraga. Muhni, salah satu pelatih tenis meja di gedung Perdana Jaya, selalu stand by di gedung yang berada di jalan Lettu Suyitno no. 67, Bojonegoro. Latihannya sendiri dimulai jam tiga sore hingga menjelang maghrib. Dari hari senin sampai sabtu. Untuk memberikan pelatihan kepada anak yang berminat mengembangkan bakatnya di bidang tenis meja.
Muhni bertugas membina anak yang baru berlatih tenis meja, di gedung yang berada dekat tambang pasir Mulyoagung tersebut. Ada beragam usia dan kalangan yang belajar tenis meja. Mulai dari usia SD, SMP, SMA, bahkan ada juga yang dari SLB. Pria dengan gaya cool ini mengaku kesulitan melatih anak – anak pemula yang ingin belajar. “Kuncinya harus sabar Mas,” tegasnya.
Dengan berbagai prestasi olahraga siswa SD ini, dinas pendidikan merespon positif. Sahari, kasi diklat Dinas Pemuda dan Olahraga, sering memberi pelatihan dan motifasi kepada sejumlah sekolah di Bojonegoro. Agar sekolah mempunyai atlet binaan dan menambah nilai plus klub – klub olahraga.
“Jadi setiap ada kegiatan olahraga selalu update, agar tidak ketinggalan. Saya juga sering mengajak rekan-rekan sharing mengenai kemajuan prestasi olahraga di Bojonegoro,” jelas pria berkacamata ini.
Dukungan yang dilakukan dari berbagai pihak ini ternyata membuahkan hasil yang cemerlang, terbukti kota Bojonegoro dalam mengikuti POR SD – MI yang diadakan di Sidoarjo mampu meraih 4 medali emas, 3 medali perak dan 3 medali perunggu.
Melihat Sisi Lain di Balik Sang Jawara Tenis Meja di Bojonegoro
Berawal dari dukungan berbagai pihak di sekitarnya, prestasi belum sepenuhnya dapat maksimal jika tanpa sarana yang juga seirama. Namun dengan adanya fasilitas yang mendukung, seperti sarana Gedung Olah Raga atau yang biasa dikenal dengan GOR. Para atlet di Bojonegoro khususnya tenis meja tidak semudah itu dapat mencapai puncaknya. Hal ini dapat kita lihat bahwa segudang prestasi yang di miliki Kota Ledre ini, tidak terlepas dari induknya.
Begitu pula dengan Gedung Perdana Jaya dan Gedung 369. Gedung ini sudah sangat terkenal. Atlet dari sekolah di Kabupaten Bojonegoro yang pernah menjuarai olahraga Bulu tangkis dan tenis meja pasti tahu. Soalnya itu tempat mereka berlatih tiap hari.
Nah, gedung Perdana Jaya itu tempat belatihnya atlet pemula yang ingin bisa tenis meja. Gedungnya luas, disana ada robotnya. Ada 6 buah meja yang dipakai mengasah anak didiknya. Di sana juga ada pelatih yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Dan tentu saja kepeduliannya kepada siapa saja yang ingin bisa.
PJ adalah nama keren dari gedung Perdana Jaya yang beralamat di Jalan Lettu Suyitno nomor 67 Bojonegoro. Terletak di desa Margomulyo, sekilas memang tempatnya terlihat aneh. Seperti gudang ataupun lahan kosong namun di tengahnya ada bangunan berdiri kokoh berwarna Putih. Bangunan itu di kelilingi oleh gundukan pasir yang mulai ditumbuhi rumput liar. Di halaman depannya juga terdapat bengkel mobil. Gubuk berpintu besi itulah yang mengantarkan atlet tenis meja pemula hingga bisa menuju ke gedung 369.
Tempat ini telihat sepi karena pagi hari dan orang yang baru lewat mungkin tidak tahu ini tempat apa. Karena, kalau pagi memang belum buka. Sementara jam bukanya adalah jam 3 sore sampai jam 6 sore.” Bagi yang memiliki bakat terpendam tentang tenis meja atau yang ingin bisa, jangan pernah merasa malu untuk berlatih di tempat itu,” ungkap Mubarak, salah satu pelatih yang ada di PJ.
Gedung 369
Siapa sih yang nggak kenal, dari anak SD hingga orang petingi-petinggi di Bojonegoro semua tahu. Ini adalah GOR-nya orang tenis meja dan Bulu tangkis. Hal ini di ungkapkan oleh bapak M. Muslih, pengelola gedung 369, “sini itu sudah terkenal, meskipun belum lama berdiri. Soalnya ini sering dipakai oleh orang2 terkenal. Mulai bupati, kapolres, pejabat-pejabat juga banyak yang datang.”
ini memang terlihat seperti gudang atau pabrik. Pasalnya kawasan jalan WR Supratman itu di dominasi dengan kawasan pergudangan. Ini dapat kita lihat bahwa depan gedung ada juga gudang tembakau milik PT Gudang Garam. Sedangkan tepat di belakangnya terdapat gudang juga yaitu gudang milik Bentoel Biru dan sebelah kirinya adalah tempat pembloweran beras.
Namun hal itu juga tidak membingungkan para olahragawan tenis meja yang ingin mengasah kemampuannya. Bahkan mulai tahun 2012, pengelola menceritakan bahwa ia setiap hari selalu stand by di sini. Ia menjelaskan, bahwa sewaktu-waktu bupati atau ada kapolres, pejabat dan dokter yang ingin berlatih ia tidak perlu bolak-balik dari rumahnya yang berada di Dander.
Ada siapa dalam gedung?
Bagi atlet tenis meja, pasti akrab dengan mantan atlet nasional Clasius Lolobua. Ia adalah pelatih yang didatangkan oleh pemilik Perdana Jaya yaitu bapak Handoko. Laki-laki alumni Fakultas Hukum UGM angkatan 86 ini menjelaskan bahwa dirinya disini diminta untuk melatih anak bojonegoro yang ingin bisa tenis meja dan membina anak yang memiliki bakat di bidang ini.
“Yang di sini semua anak-anak juga berawal dari nol (baca : tidak bisa sama sekali), tetapi mereka ini punya semangat tinggi. Yang tidak kalah penting, juga harus mendapatkan dukungan penuh baik dari sekolah maupun keluarga. Karena kedua pihak itu diharapkan bisa mengerti kalau ada turnamen, dan harus latihan rutin. Dan motivasi serta dispensasi selalu diberikan untuk anak didik yang hendak ikut bertanding,” ungkap pria asal Makasar itu.
Untuk saat ini, atlet binaan yang dilatih oleh pria berusia 53 itu ada 15 anak. Mereka semua berasal dari berbagai daerah. Namun hal tersebut mendapat acungan jempol, karena atlet yang ia bina adalah atlet yang mampu meraih target juara.
Turnamen terakhir diikuti adalah Piala Dwi Bengawan Solo, yang pesertanya meliputi seluruh Jawa. Acara itu baru saja dilaksanakan tanggal 22 s/d 23 Januari 2012 kemarin. Sebagai juara pertama kadet putra yang di raih oleh Zahru, Siswa SMA 3. Tak hanya itu, Zahru, yang baru menginjak SMA ini juga sekaligus menggaet juara 3 ujntuk tunggal putra. Digi, peraih juara 1 kadet putri juga membawa nama baik Bojonegoro dalam ajang tersebut.
Kemudian, yang kedua Piala TVRI Nasional tanggal 15 s/d 18 September di Semarang. Turnamen ini di ikuti oleh Sandy, juara 1 kadet putra dan Zahru kadet putra yang mendapatkan juara keduanya. Berdasarkan catatan prestasi yang diperoleh atlet, selama dua tahun ini selalu mengikuti pertandingan dan hampir selalu mendapatkan juara. Meskipun pernah sekali ada turnamen yang tidak mendapat apa-apa saat big match, namun hal tersebut selalu menjadi motivasi untuk para atlet agar lebih giat berlatih.
“Hampir setiap bulan ada turnamen, dan kami juga selalu ikut. Ini saja kemarin baru saja pulang langsung intensif latihan,” cerita mantan atlet nasional.
Melihat Sisi Lain di Balik Sang Jawara Tenis Meja di Bojonegoro
Berawal dari dukungan berbagai pihak di sekitarnya, prestasi belum sepenuhnya dapat maksimal jika tanpa sarana yang juga seirama. Namun dengan adanya fasilitas yang mendukung, seperti sarana Gedung Olah Raga atau yang biasa dikenal dengan GOR. Para atlet di Bojonegoro khususnya tenis meja tidah semudah itu dapat mencapai puncaknya. Hal ini dapat kita lihat bahwa segudang prestasi yang di miliki Kota Ledre ini, tidak terlepas dari induknya.
Begitu pula dengan Gedung Perdana Jaya dan Gedung 369. Gedung ini sudah sangat terkenal. Atlet dari sekolah di Kabupaten Bojonegoro yang pernah menjuarai olahraga Bulu tangkis dan tenis meja pasti tahu. Soalnya itu tempat mereka berlatih tiap hari.
Nah, gedung perdana jaya itu tempat belatihnya atlet pemula yang ingin bisa tennis meja. Gedungnya luas, disana ada robotnya. Ada 6 buah meja yang dipakai mengasah anak didiknya. Di sana juga ada pelatih yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Dan tentu saja kepeduliannya kepada siapa saja yang ingin bisa.
PJ adalah nama keren dari gedung Perdana Jaya yang ber alamat di Jalan lettu Suyitno nomor 67 Bojonegoro. Terletak di desa Margomulyo,sekilas memang tempatnya terlihat aneh. Seperti gudang ataupun lahan kosong namun di tengahnya ada bangunan berdiri kokoh berwarna Putih.. Bangunan itu di kelilingi oleh gundukan pasir yang mulai ditumbuhi rumput liar. Di halaman depannya juga terdapat bengkel mobil. Gubug berpintu besi itulah yang mengantarkan atlet tenis Meja pemula hingga bisa menuju ke gedung 369.
Tempat ini telihat sepi karena pagi hari dan orang yang baru lewat mungkin tidak tahu ini tempat apa. Karena, kalau pagi memang belum buka. Sementara jam bukanya adalah jam 3 sore sampai jam 6 sore.” Bagi yang memiliki bakat terpendam tentang tenis meja atau yang ingin bisa, jangan pernah merasa malu untuk berlatih di tempat itu,” ungkap , salah satu pelatih yang ada di PJ.
Berprestasi di Olah Raga, Jeblok di Pelajaran
Seorang anak yang berprestasi dalam bidang olah raga pastinya sangat membanggakan. Namun bagaimana dengan nilai pelajarannya di sekolah?
Fenomena yang terjadi, anak yang prestasinya di bidang olah raga cemerlang, namun di pelajarannya di sekolah nilainya biasa-biasa saja, bahkan ada yang jeblok.
Semua tergantung dari diri anak tersebut. Memang ada tipe anak yang prestasi di bidang olah raganya bagus, namun di pelajarannya biasa saja. Ada juga yang nilai akademiknya bagus, namun tidak memiliki prestasi di bidang non akademik. Bahkan ada juga yang non akademik berprestasi, akademiknya juga berprestasi.
Seperti yang di ungkapkan guru olah raga di MINU, bahwa memang ada anak yang lebih menonjol prestasinya di salah satu bidang.
“Misalkan di sekolah ini, ada anak yang berprestasi di olah raga bulu tangkis, namun nilai pelajarannya biasa saja. Ada juga anak yang lebih menonjol di pelajaran, namun tidak mempunyai prestasi di bidang lainnya. Ada kelebihan, ada juga kekurangan, dan keduanya saling mengisi,” papar guru yang tidak mau disebutkan namanya tersebut.
Untuk mengimbangkan antara prestasi akademik dan non akademik, tak lepas upaya dari sekolah untuk memberikan tambahan pada siswa yang kebetulan mengikuti event waktunya bersamaan dengan waktu pelajaran di sekolah.
Seperti yang dipaparkan oleh Sony Alpha Prasetya, guru olah raga di SDN Kadipaten II, bahwa ketika siswa sedang ada kompetisi bersamaan dengan waktunya belajar di sekolah, maka akan diberikan tambahan bimbingan belajar.
“Agar pelajarannya tidak tertinggal ketika siswa sedang mengikuti pertandingan pas jam pelajaran, maka akan diberikan les di sore hari. Jadi pelajaran mereka tidak tertinggal dari yang lainnya.” jelas bapak satu anak ini.
Tingkah laku di sekolah, anak yang berprestasi sama dengan siswa yang lainnya, tidak sombong ataupun memilih-milih teman. Bahkan anak yang berprestasi bisa membantu dalam pelajaran, dan di jadikan contoh untuk teman-temannya. Hal itu yang dilakukan oleh Sony ketika praktik olahraga renang, ia meminta atletnya untuk memberikan contoh dan membantu teman-temannya.
Mengenai tingkah laku siswa di sekolah, pemerintah telah memberlakukan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berkarakter, di mana setiap kegiatan siswa yang diberikan dapat membentuk karakter siswa. Hal itu dibenaran oleh FX Sugiatmo, kepala sekolah SD Santo Paulus.
“Tingkah laku siswa di sekolah semua sama, tidak ada perbedaan anatara siswa yang prestasi ataupun biasa. Sebelum pemerintah menetapkan pendidikan karakter, di sini sudah terbiasa memberikan pendidikan karakter pada siswa.” Terang pria asal Semarang ini. (Ika F.N.R.Kanapi, Desi S.E., Parto S.)
Subscribe to:
Posts (Atom)
